Oleh: Ardhan Firdaus | Agustus 1, 2009

Film dan Internet, Mata Rantai Komodifikasi Seksualitas

Posted on August 1st, 2009 by admin

Oleh Fajar Junaedi
(penulis lepas dan dosen konsentrasi broadcasting Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, e-mail fajarjun@gmail.com, tulisan ini juga dimuat di buku “Behind The Sex”, terbitan Karpet Biru Publising Yogyakarta 2009)

“Aku cinta, Anda cinta, buatan Indonesia”, begitulah lirik sebuah lagu yang sangat populer di masa tahun 1980-an. Di saat nasionalisme semakin diperdebatkan eksistensinya, para pecinta film Indonesia di era ini adalah bagian dari rakyat Indonesia yang membuktikan nasionalismenya dengan menonton film Indonesia, setidaknya cuplikan film Indonesia terbaru di acara Apresiasi Film Indonesia, yang tayang setiap hari Sabtu malam Minggu di TVRI. Di akhir acara ini, lirik lagu di atas bergema mengirinya layar bioskop yang mulai tertutup.
Pada masa inilah film Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri dengan merajai berbagai gedung bioskop dan layar tancap, sebuah tontonan yang sangat populer di masanya, sebelum kemunculan berbagai stasiun televisi dan media digital yang melibas layar tancap.
Dekade pertengahan 1990-an jagad film Indonesia berada dalam titik yang paling nadir. Secara kuantitas, jumlah film yang diproduksi semakin merosot dengan sebagian besar hanya menjual seksualitas murahan. Penonton film generasi ini seringkali hanya disuguhi kiprah para bom seks di masa tersebut, seperti Sally Marcelina, Suzanna dan Kiki Fatmala. Film-film yang mereka bintangi dilihat dari judulnya saja sudah kelihatan sangat panas seperti, Ranjang Setan, Gadis Metropolis atau Akibat Pergaulan Bebas.
Selera budaya (taste of culture) rendahan yang dikandung oleh film Indonesia di dekade ini memiliki saham besar dalam menjerumuskan film Indonesia ke dalam jurang kehancurannya sendiri. Penonton semakin muak dengan film-film yang menjual seksualitas murahan. Film-film Indonesia kemudian harus menerima nasib hanya diputar di bioskop kelas tiga yang kondisinya setali tiga uang dengan film Indonesia. Gedung-gedung bioskop kelas tiga sudah jamak dikenal publik sebagai gedung bioskop yang penuh dengan kecoa, debu dan bocor saat hujan.
Kondisi ini berubah drastis saat film Petualang Sherina dan Ada Apa dengan Cinta meledak di pergantian milenium. Film Indonesia bangkit dari mati surinya. Sayangnya di masa kebangkitan film Indonesia, yang di tahun 2008 ditandai dengan merajainya dua film produksi anak negeri, Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi, kisah lama terulang yaitu dijualnya seksualitas murahan dalam film Indonesia sebagaimana yang pernah terjadi di masa sebelumnya. Peredaran film Buruan Cium Gue dan Virgin menandai era baru seksualitas murahan dalam film Indonesia pasca generasi Suzanna yang ditandai dengan munculnya generasi Anggia Yulia Hanafi dan kawan-kawan yang menjadi bintang dalam film Virgin. Judul provokatif seperti Maaf, Saya Menghamili Istri Anda mengingatkan kita pada judul-judul film era kejayaan film Indonesia lampau yang tidak kalah provokatif.
Apa yang terjadi dalam film Indonesia ini bisa ditelusuri sebagai berikut. Di alam budaya massa yang menjadi realitas budaya masa kini, segala bentuk budaya dikendalikan oleh segelintir tangan para elit industri budaya (culture industries). Merekalah yang memproduksi berbagai film yang saat ini menghibur publik. Kondisi seperti inilah yang oleh Thodore W. Adorno dianggap sebagai karakteristik budaya massa yang memiliki sifat afirmatif, yaitu terjadinya standarisasi, massifikasi dan komodifikasi (Adorno dalam Stevenson, 1997:53). Pengemasan beragam film yang hanya menjual seksualitas murahan seperti di atas memperlihatkan adanya standarisasi secara massif. Standarisasi ini kelihatan dalam film Indonesia yang seragam dalam menjual seksualitas murahan secara massif dan ujug-ujungnya menjadi tubuh perempuan dan seksualitas sebagai komoditas.
Inti dari kritik Adorno, yang diamini pula oleh pemikir Mahzab Frankfurt (the Frankfurt School) lainnya, adalah dalam kapitalisme lanjut (late capitalism) telah terjadi proses komodifikasi atas segala artefak budaya oleh segelintir elit pengusaha dalam industri budaya untuk dijadikan komoditas yang membawa keuntungan bagi mereka.
Seksualitas murahan dalam film Indonesia secara jelas menunjukan adanya proses seperti ini, di mana tubuh para artis muda yang meroket dengan film-film panasnya, telah menjadi komoditi yang dijual demi memenuhi selera budaya rendah segelintir publik. Jika dibiarkan demikian, agaknya film Indonesia tinggal menunggu waktu sekaratnya sebagaimana yang pernah terjadi di masa sebelumnya.
Persoalan komodifikasi seksualitas semakin pelik ketika dipertautkan dengan media baru bernama internet. Jika gunting sensor dapat secara digdaya memotong adegan yang dianggap erotis oleh anggota Lembaga Sensor Film (LSF), maka di dunia internet gunting sensor menjadi benar-benar tumpul.
Ada fakta yang menarik bahwa media baru (new media) telah menyuburkan pornografi dan serempak pula membangkitkan perdebatan lama tentang seksualitas di media. Dengan berbagai fasilitas yang ada, erotisme dapat segera menyebar ke berbagai pelosok dunia yang terjangkau oleh internet.
Bandingkan kondisi di tahun 1980-an dimana video dalam format VHS dan Betacam menjadi andalan dalam konsumsi film dewasa dengan akses yang sangat terbatas, maka internet dengan berbagai format dokumen memudahkan publik mengkonsumsi apapun, termasuk di dalamnya adalah seksualitas.
Remaja di Indonesia, bukan hanya di kota namun juga di pelosok desa, dengan secara vulgar mengekposisi bagian tubuh yang dalam pandangan kebanyakan publik di nusantara dianggap sebagai wilayah privat. Beredarnya berbagai video amatir yang mungkin paling amatiran dengan artis lokal Indonesia di internet semakin memposisikan media sebagai sumber kuat dari penciptaan identitas (McQuail dalam Devereux,2003:7).
Seksualitas telah menjadi identitas yang dieksposisi, sebagaimana yang dikemukakan oleh Michael Foucault yang menyatakan bahwa seksualitas bukanlah sebuah represi melainkan sebuah obsesi sosial, dimana berbagai usaha untuk merepresi seksualitas sebenarnya justru merefleksikan obsesi terhadapnya, dan akan selalu menciptakan lebih banyak kesadaran publik untuk memperbincangkannya (Foucault dalam Gauntlett, 2002:101).
Seksualitas di media memang tidak pernah mati. Selalu ada yang baru, saat yang lain direpresi. Mengutip kata pepatah, mati satu tumbuh seribu.

Jurnal Komunikasi


Tanggapan

  1. Silakan kunjungi go green di http://www.wisnuvegetarianorganic.wordpress.com/


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.